Biro Organisasi

Wakil Gubernur DIY, Paku Alam IX Buka Temu Lapang dan Lelang Kambing Bligon

KULON PROGO (09/10/2013) portal.jogjaprov.go.id Dengan usaha yang gigih dari berbagai kelompok tani yang didukung pemerintah ke depan Kabupaten Kulon Progo bisa menjadi sentranya kambing di DIY. Sebab peranan sub sektor peternakan akan mendukung ketahanan pangan, diantaranya adalah dukungan dalam pencapaian swasembada daging dan diversifikasi komoditas peternakan.

Harapan demikian disampaikan Wakil Gubernur DIY Paku Alam IX ketika membuka temu lapang dan lelang kambing bligon serta peresmian kampong integrasi di Dusun Pandaan, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo siang tadi (Rabu,09/10) yang juga dihadiri Wakil Bupati Kulon Progo Drs.H.Sutedjo.

Lebih lanjut Wakil Gubernur, menyatakan dari hasil penelitian dari Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa pemanfaatan kulit buah kakao sebagai pakan ternak, secara ekonomi sangat layak dan ramah lingkungan. Olahan buah kakao dengan tambahan dedak padi melalui proses silase/fermentasi mampu menggantikan 100 persen rumput untuk ransum kambing. Hal ini menurut Paku Alam IX akan memberikan dampak positif bagi para petani dan peternak, sehingga para petani peternak bisa menghemat pakan ketika petani sudah memanfaatkan kulit buah kakao untuk pakannya. Hemat waktu, hemat tenaga maupun hemat secara finansial, sekaligus mampu meningkatkan produktifitas kambing itu sendiri.

Wakil Bupati Kulon Progo Drs.H.Sutedjo dalam sambutan selamat datang pada kesempatan itu mengatakan bahwa dari hasil pendampingan oleh BPTP untuk mengintegrasikan antara kambing dengan kakao mampu meningkatkan produksi kakao dari 215 kg/hektar menjadi 597 kg/hektar dan mampu meningkatkan pendapatan petani dari Rp.423 ribu menjadi Rp.2.481.250 pertahun dari usaha tani kakao dan ternak kambing.

“Dalam model integrasi tersebut terdapat inovasi teknologi penggunaan kotoran ternak kambing (padat) diolah menjadi pupuk bagi tanaman kakao dan teknologi pengolahan kulit buah kakao untuk pakan ternak kambing. Inovasi teknologi tersebut memiliki nilai margin benefit cost ratio 5,1 hingga 8,88 sehingga layak untuk dikembangkan dilokasi ini “ ujar Wakil Bupati Sutedjo.

Sementara itu Kepala BPTP  Kementerian Pertanian WI Dr. Sudarmaji mengatakan bahwa dalam kurun dua (2) tahun pendampingan dan pengkajian di wilayah ini telah terjadi perubahan signifikan dan hasil terapan inovasi teknologi dan telah dapat dinikmati para petani peternak kambing.

Menurut Sudarmaji dengan melaksanakan inovasi teknologi secara menyeluruh dari pendampingan selama tahun 2012 dengan kegiatan Rabu Kakao tersebut yaitu setiap hari rabu digunakan untuk perawatan kebun kakao secara bergotongroyong dan tahun 2013 ini muncul Rabu Kambing yaitu setiap Hari Rabu digunakan untuk melakukan perawatan ternak kambing secara bersama-sama.

Dari inovasi teknologi serta terintegrasikannya Kambing-Kakao pada tahun 2013 terdapat perubahan bobot berat badan kambing bligon setiap harinya dapat ditingkatkan dari 50 gram/ekor/hari menjadi 60 gram/ekor/hari (meningkat 20 %) dengan penambahan pakan berupa daun kakao segar sebanyak 2kg/ekor/hari. Daun kakao menurut Dr. Sudarmaji diperoleh dari hasil pangkasan kakao ketika dilakukan pemupukan agar penggunaan pupuk bisa efektif.

Untuk itulah lanjut Kepala BPTP tersebut inovasi teknologi yang telah dihasilkan dari pengkajian ini antara lain adalah teknologi (1) pembuatan pupuk organik padat dari kotoran ternak kambing, (2) pembuatan pupuk organik cair dari kotoran ternak kambing, (3) pemupukan tanaman kakao, (4) pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kakao, (5) penggunaan kulit buah kakao sebagai pakan ternak kambing, (6) penggunaan daun kakao sebagai pakan ternak kambing, (7) kandang jepit untuk kawin ternak kambing dan (8) penerapan kalender ternak untuk meningkatkan jumlah kelahiran anak kambing.

Peresmian Kampung Integrasi dan Pembukaan Temu Lapang ditandai dengan Penandatanganan Prasasti serta pengguntingan pita oleh Wakil Gubernur DIY Paku Alam IX. (krn)

 

 

HUMAS DIY