Lain-lain

Pencapaian Kinerja Berawal Dari Budaya Kerja

Pencapaian kinerja dalam pemerintahan membutuhkan semangat yang tinggi dari para pegawainya. Termasuk ketika memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka harus diperhatikan apa saja yang menjadi kebutuhan masyarakat. Masyarakat berasal dari berbagai latar belakang yag berbeda, sehingga apa yang mereka butuhkanpun berbeda. Kejelian pelayan masyarakat diuji di saat seperti itu. Seperti apa yang diungkapkan Staf Ahli Bidang Budaya Kerja Aparatur Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Panganti, sebagai abdi masyarakat, aparatur sipil negara harus memiliki semangat reformasi birokrasi dengan melayani, bukannya dilayani. Hal tersebut sesuai dengan reformasi birokrasi yang terjadi pada pemerintah daerah DIY, pegawai adalah pamong praja, yang siap melayani masyarakat, bukan menguasai masyarakat.


“Jangan lupa membangun behavior agar terhindar dari penyakit birokrasi seperti kurang disiplin, tidak bisa komputer, asal mengisi absen, kurang terampil, sampai cuma makan gaji buta,” ujar Rini Panganti ketika penerimaan kunjungan 40 peserta diklat Kebahasaan Lembaga Administrasi Negara (LAN), Kamis (08/05). Skill pegawai yang akan menunjukkan kompetensi pada bidangnya sangat diperlukan agar bukan semata-mata mengejar presensi yang harus diisi tiap harinya. Kapasitas pegawai harus dikembangkan melalui diklat, magang, maupun pertukaran untuk menambah wawasan. Behavoiur ini akan terbangun seiring terbangunnya budaya pemmerintahan yang digunakan dalam kesehariannya. Membangun budaya kerja di lingkungan PNS semata-mata untuk menempatkan pegawai sebagai aset dari organisasi, sesuai Peraturan Menteri PANRB nomor 39 tahun 2012 tentang Pedoman Pengembangan Budaya Kerja.

Sebagai pemerintah daerah yang menyelenggarakan pemerintahan pada tingkat local, maka Pemda DIY telah memiliki budaya pemerintahan yang (diharapkan) dapat menjadi pedoman para pegawainya dalam bekerja. Budaya SATRIYA, begitu Pemda DIY menyebutnya, merupakan watak dan singkatan.

 

  • Pertama, SATRIYA dimaknai sebagai watak ksatria. Watak ksatria adalah sikap memegang teguh ajaran moral : sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh (konsentrasi, semangat, percaya diri dengan rendah hati, dan bertanggung jawab). Semangat dimaksud adalah golong gilig yang artinya semangat persatuan kesatuan antara manusia dengan Tuhannya dan sesama manusia. Sifat atau watak inilah yang harus menjiwai seorang aparatur dalam menjalankan tugasnya.
  • Makna kedua, SATRIYA sebagai singkatan dari : Selaras, Akal budi Luhur-jatidiri, Teladan-keteladanan, Rela Melayani, Inovatif, Yakin dan percaya diri, dan Ahli-profesional. (makna SATRIYA pada artikel selanjutnya) (dea/org)

 

Sumber: